Selasa, 08 Mei 2012

Skripsi PTK Anak TK-B


JUDUL: PENERAPAN KEGIATAN SANDIWARA BONEKA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA EKSPRESIF ANAK PADA KELOMPOK B DI TAMAN  KANAK-KANAK NEGERI 03 TOLADA KABUPATEN LUWU UTARA.

I.     PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah merupakan hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh manusia terutama bagi anak, karena bahasa adala merupakan alat dalam berkomunikasi antara satu orang dengan yang lain. perkembangan bahasa memiliki beberapa aspek, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Dari keempat aspek tersebut di atas, yang paling sering kita gunakan setelah mendengarkan adalah kemampuan berbicara atau biasa juga kita kenal dengan istilah bahasa ekspresif.
Bahasa ekspresif adalah kemampuan yang dimiliki anak untuk mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya. (Moeslichatoen, 2004:35). Maka dari itu orang tua harus mampu menstimulasi kemampuan anak dalam mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka inginkan, tanpa ada paksaan dari orang lain. salah satu cara orang tua menstimulasi kemampuanbahasa ekspresif anak adalah dengan cara memberikan pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan dan karakteriktik  anak.
Taman Kanak-kanak adalah merupakan tempat yang sangat sesuai dengan anak yang belum memasuki SD yang berada pada rentang usia 0-6 tahun untuk merangsang berbagai kemampuan yang dimiliki oleh anak. Menurut Hurlock (1987) bahwa anak usia 4 sampai 6 ahun merupakan bagian dari anak usia dini yang berada pada rentang usia lahir sampai 6 tahun, pada usia ini secara teminologi disebut sebagai anak usia pra sekolah, dimana pertumbuhan kecerdasannya pada masa ini mengalami peningkatan dari 50% sampai 80%.
Kemampuan anak pada usia Taman Kanak-kanak, biasanya sudah mampu mengembangkan keterampilannya mengekspresikan ide, perasaan dan pemikirannya, disamping itu juga anak mampu memikat orang lain, anak juga dapat mengekspresikan setiap apa yang mereka pahami dengan berbagai cara, seperti bertanya, berdialog, bernyanyi dan mendengarkan cerita dan juga bercerita sesuai dengan apa yang dialaminya. Oleh karena itu kata-kata serta tata bahasa dapat diajarkan pada anak sejalan dengan pencapaian keterampilan mereka untuk mengungkapkan buah pikiran serta gagasan yang ada dalam pikirannya.
Anak pada usia Taman Kanak-kanak juga sudah mulai mengerti konsep-konsep serta hubungan antar konsep. Sebelum anak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya, anak belajar bahasa dari orang dewasa. Oleh karena itu orang dewasa yang berada di lingkungan anak tersebut harus memberikan pengaruh yang positif terhadap tumbuh kembang pada anak tersebut, karena hal tersebut mampu mempengaruhi anak, terutama bagi masa depan anak itu sendiri.
Menurut Depdikbud (1995:5) bahwa “berdasarkan kemampuan berbahasa anak Taman Kanak-kanak itu, pada hakekatnya pembelajaran pengembangan kemampuan berbahasa dan keterampilan menyimak, berbicara melalui ruang lingkup materi dipayungi oleh tema-tema tertentu dalam Kurikulum  Taman Kanak-kanak".
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti pada anak kelompok B di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada kabupaten Luwu Utara, bekaitan dengan masalah kemampuan bahasa ekpresif anak, diantaranya: anak kurang mampu memahami isi percakapan, sehingga kemampuan anak untuk menanggapi umpan balik pada kegiatan tersebut sangat pasif, anak kurang mampu mengekspresikan pendapatnya dan partisipasi anak dalam pembelajaran tidak terlihat.
Berdasarkan pendapat tersebut dan mengingat perkembangan kemampuan berbahasa di Taman Kanak-kanak sangatlah penting dan diperlukan dalam mengembangankan bahasa lisan pada anak, maka upaya guru dalam meningkatkan kemampuan berbahasa ekspresif anak adalah dengan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan komunikatif agar tercipta suasana yang menyenangkan dan mampu mencapai tujuan dalam proses belajar mengajar tersebut. Oleh karena itu peran guru sangat penting dalam memilih metode atau kegiatan yang sesuai denga tahap perkembangan dan karakteristik tema yang akan kita ajarkan. Dari beberapa metode atau kegiatan yang dapat digunakan guru dalam mengembangkan kemampuan bahasa ekspresif salah satunya yaitu dengan cara bermain dengan menggunakan media boneka atau biasa kita kenal dengan istilah sandiwara boneka.
Sandiwara boneka adalah merupakan teknik bercerita dengan menggunakan media berupa boneka. dalam penggunaan boneka dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara boneka. Boneka, hewan, dan miniature (dolls, animals, and miniatures). Boneka merupakan model dari manusia, atau yang menyerupai manusia (contohnya Bert), atau hewan. Seringkali boneka dimaksudkan untuk dekorasi atau koleksi untuk anak yang sudah besar atau orang dewasa, namun kebanyakan boneka ditujukan sebagai mainan untuk anak-anak, terutama anak perempuan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa masalah yang dihadapi oleh anak pada kelompok B di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara, sehingga perlu untuk ditingkatkan secara optimal.  Oleh karena itu peneliti berupaya meningkatkan kemampuan abahasa ekspresif anak melalui kegiatan sandiwara boneka di di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah yang diajukan adalah: Apakah penerapan kegiatan sandiwara boneka dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak pada kelompok B di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara?
C.  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah untuk mengetahui penerapan kegiatan sandiwara boneka dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak pada kelompok B di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara.

D.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1.      Manfaat Teoretis
a.       Bagi Peneliti, diharapkan dapat menjadikan bahan rujukan terutama dalam mengkaji masalah penerapan metode bercerita melalui kegiatan sandiwara boneka dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak.
b.      Sebagai referensi bagi guru atau calon guru tentang masalah penerapan metode bercerita melalui kegiatan sandiwara boneka dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi guru, diharapkan bisa menjadi bahan masukan dalam menghadapi anak untuk dapat mengetahui masalah penerapan metode bercerita melalui kegiatan sandiwara boneka dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak.
b.      Bagi anak didik untuk dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak melalui metode bercerita berupa kegiatan sandiwara boneka, khususnya bagi anak di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara.


II.      KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.    Kajian Pustaka
1.      Pengertian Sandiwara Boneka
Menurut (Montolalu, 2007:10.10) bahwa metode sandiwara boneka adalah teknik bercerita dengan menggunakan boneka dan dapat pula dikombinasikan dengan menggunakan panggung.
Sedangkan menurut Menurut Gunarti, W. dkk (2010:5.19 bahwa bercerita dengan menggunakan boneka (sandiwara boneka) adalah merupakan “kegiatan bercerita dengan menggunakan media boneka sebagai pemeran tokoh dalam cerita dan beneka yang digunakan bisa berupa boneka jari, boneka tangan dan boneka wayang”
Menurut Malpalenisatriana (2011) bahwa sandiwara boneka adalah guru bercerita dengan menggunakan berbagai macam boneka yang akan dipentaskan dalam suatu cerita.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sandiwara boneka adalah merupakan kegiatan bercerita dengan menggunakan media berupa boneka.
2.      Bentuk Metode Sandiwara Boneka
Metode sandiwara boneka adalah merupakan metode yang dapat diterapkan ketika guru akan berserita dalam proses belajar mengajar di Taman Kanak-kanak. Menurut (Montolalu, 2007:10.10) bahwa bercerita dengan menggunakan media boneka adalah “merupakan teknik yang tidak kalah menariknya bagi anak dan dalam pelaksanaannya banyak boneka yang bisa kita gunakan dalam kegiatan ini, yaitu boneka tangan dan boneka jari”.
Sedangkan menurut Menurut Gunarti, W. dkk (2010:5.19 bahwa kegiatan bercerita dengan menggunakan media boneka sebagai pemeran tokoh dalam cerita,  yang dapat digunakan bisa berupa boneka jari, boneka tangan dan boneka wayang”. Berikut penjelasannya. 
a.       Boneka Tangan
Menurut Gunarti, W. dkk (2010:5.20 bahwa boneka tangan adalah boneka yang ukurannya lebih besar dari boneka jari dan bisa dimasukkan ke tangan”.
b.      Boneka Jari
Menurut Gunarti, W. dkk (2010:5.20 bahwa boneka Jari adalah “boneka yang dimasukkan kedalam jari tangan, bentuknya kecil seukuran jari tangan orang dewasa”.
c.       Boneka Wayang
Menurut Gunarti, W. dkk (2010:5.20 bahwa boneka wayang  adalah “boneka berbentuk dua dimensi atau tiga dimensi yang kita beri kayu sebagai pegangan untuk dimainkan seperti halnya memainkan wayang”.
d.      Boneka dengan menggunakan panggung
Menurut (Montolalu, 2007:10.12) bahwa “kegiatan bercerita melalui media boneka dengan menggunakan panggungnya akan meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak”.
Selanjutnya menurut Jenkins (Montolalu, 2007:10.12) bahwa panggung boneka dapat membantu anak untuk:
1)   Mengembangkan daya kreasi dan imajinasinya; 2) Berkonsentrasi; 3) mengembangkan keterampilan berkomunikasi 4) belajar bekerja sama; 5) mengurangi kecemasan, 6) memperoleh pengetahuan; 7) mengenalkan tentang aturan kehidupana, 8) sadar akan perilakunya.


3.      Manfaat Sandiwara Boneka
Menurut Warta (2010), bahwa terdapapt beberapa keuntungan penggunaan boneka untuk sandiwara adalah:
a.    Tidak memerlukan waktu yang banyak, biaya dan persiapan yang terlalu rumit.
b.    Tidak banyak memakan tempat, panggung sandiwara boneka dapat dibuat cukup kecil dan sederhana.
c.    Tidak menuntut keterampilan yang rumit bagi yang akan memainkannya.
d.   Dapat mengembangkan imajinasi anak, mempertinggi keaktifan dan menambah suasana gembira.
4.      Langkah-langkah Sandiwara Boneka
Menurut Menurut Gunarti, W. dkk (2010:5.21) bahwa dalam bercerita dengan menggunakan media boneka (sandiwara boneka) terdapat beberapa langkah-langkah dalam pelaksanaannya sebagai berikut:
a.    Siapkan segala perlengkapan yang akan kita gunakan, seperti boneka panggung kecil (bila ada), tipe recorder, dan kaset musik instrumenal (apabila ada).
b.    Atur posisi duduk anak yang membuat anak merasa nyaman
c.    Kita dapat mengemukakan kalimat prolog sebelum adegan cerita dimulai dengan diiringi dengan musik pengiring sambil menyebutkan judul cerita
d.   Apabila menggunakan panggung, bukalah layar pangung kemudian kenal tokoh boneka satu demi satu.
e.    Selanjutnya, kita dapat memulai adegan demi adegan yang diperankan oleh boneka-boneka tersebut secara bergantian, diiringi dengan musik pengiring. Ketika suatu adegan akan bergantian, diiringi dengan musik pengiring. Ketika suatu adegan akan berganti dengan adegan lain, tutuplah layar kembali atau turunkan boneka dari arah kanan ke kiri atau sebaliknya. Boneka tidak diturunkan dari atas ke bawah seakan-akan “tenggelam” di telan bumi.
f.     Ketika cerita sudah selesai dituturkan, kita dapat mengajukan pertanyaan seputar cerita tersebut, misalnya tentang judul cerita, tokoh cerita, isi cerita. Bisa juga meminta pendapat atau komentar anak mengenai cerita tersebut. Dapat pula kita minta anak memperagakan karakter suatu tokoh atau suatu kejadian dalam cerita tersebut.
g.    Selanjutnya guru bi sa bersama-sama dengan anak menyimpulkan isi cerita tersebut, termasuk mencari pelajaran dari isi cerita juga mencari solusi terbaik dari permasalahan yang ada pada cerita tersebut.
h.    Akhiri kegiatan bercerita dengan meminta anak untuk menceritakan kembali isi cerita atau tutup dengan nyanyian yang menggambarkan isi cerita tersebut.

Menurut Al-Rasyid (2011) bahwa agar boneka dapat menjadi media instruksional yang efektif, maka perlu kita per-hatikan beberapa hal yang antara lain adalah:
a.       Rumusan tujuan pembelajaran dengan jelas. Dengan demikian akan dapat diketahui, Apakah tepat digunakan permainan sandiwara boneka atau sandiwara yang lain.
b.      Buatlah naskah atau skenario sandiwara yang akan dimainkan secara terperinci. Baik dialognya, settingnya dan adegannya harus disusun secara cermat, sekalipun dalangnya dimungkinkan untuk berimprovisasi saat ia mendalang/memainkan boneka tersebut.
c.       Permainan boneka mementingkan gerak dari pada kata. Karena itu pembicaraan jangan terlalu panjang, dapat menjemukan penonton. Untuk anak-anak usia kelas rendah sekolah dasar atau anak-anak TK, sebaiknya permainan boneka dirancang untuk banyak melibatkan dialog dengan anak pada saat permainan.
d.      Permainan sandiwara boneka jangan terlalu lama, kira-kira 10 sampai 15 menit. Agar pesan khusus yang disampaikan kepada anak dalam permainan sandiwara boneka tersebut dapat ditangkap/dimengerti oleh anak-anak/penonton.
e.       Hendaknya diselingi dengan nyanyian, kalau perlu penonton diajak nyanyi bersama. Bila perlu dilanjutkan dengan dialog atau diskusi dengan anak-anak/penonton untuk memantapkan pesan nilai yang diajarkan.
f.       Isi cerita hendaknya sesuai dengan umur dan kemampuan serta daya imajinasi anak-anak yang menonton.
g.      Selesai permainan sandiwara, hendaknya diadakan kegiatan lanjutan seperti tanya-jawab, diskusi atau menceritakan kembali tentang isi cerita yang disajikan.
h.      Jika memungkinkan, berilah kesempatan kepada anak-anak untuk memainkannya.
5.      Pengertian Bahasa Ekspresif
Menurut Fung (2003:9) bahwa ”bahasa ekspresif atau mengemukakan pendapat yaitu anak sudah dapat berbicara dengan jelas dan pengucapan huruf yang sempurna, serta anak sudah mampu bercerita dan menggunakan kalimat lengkap”.
Menurut Moeslichatoen (2004:35) mengemukakan bahwa: “bahasa ekspresif adalah kemampuan yang dimiliki anak untuk mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya’’. Anak-anak dapat berbicara sesuai dengan aturan-aturan tata bahasa, dapat memahami kosa kata yang didengarkan dalam percakapan yang umum dikenal. Anak-anak belajar berbahasa, sebagaimana mereka memperoleh pengetahuan lainnya, yakni melalui pengalaman.
Lebih lanjut Mustakim, dkk (2005: 29) mengemukakan bahwa ”bahasa ekspresif anak adalah bahasa yang digunakan untuk berbicara dan menulis.” Sedangkan Menurut Syamsul B. Thalib (2004:115) mengemukakan bahwa, “kegiatan berbahasa merupakan proses kognitif, termasuk penyimpanan, mengingat, dan mengungkapkan kembali apa saja yang baru didengar atau disampaikan kepada pendengar”.
Kemampuan anak mereproduksi sejumlah kata pada usia tertentu, peran pembawaan dan lingkungan terhadap perkembangan bahasa anak, dan bahasa egosentrik anak yang ukan merupakan alat komunikasi, melainkan tertuju pada dirinya sendiri.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa ekspresif adalah pembicaraan yang dilakukan anak dengan menggunakan bahasa lisan dalam kemampuan anak mengungkapkan kembali apa saja yang baru didengar atau disampaikan kepada pendengar dalam sebuah percakapan
6.      Karakteristik Bahasa Ekspresif Anak
Pada perkembangan bahasa ekspresif anak terdapat beberapa karakteristik, yang harus diketaui sehingga mampu menstimulus perkembangan bahasa ekspresi anak dengan baik. Menurut Dhieni (2008:9.5) bahwa terdapat beberapa karateristik dalam kemampuan bahasa ekspresif anak pada usia 4-6 tahun yaitu:
a)      Terjadi perkembangan yang cepat dalam kemampuan bahasa anak ia telah dapat menggunakan kalimat dengan baik dan benar.
b)      Telah menguasai 90% dari fonem dan sintaks dari bahasa yang digunakannya.
c)      Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. Anak sudah dapat mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut.
d)     Sudah dapat mengucapkan lebih dari  2500 kosa kata.
e)      Lingkup kosa kata yang diucapkan anak menyangkut: warna, rasa, bau, kecantikan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan jarak, permukaan (kasar dan halus).
f)       Sudah dapat menjadi peran pendengar dengan baik.
g)      Dapat berpartisipasi dalam sebuah percakapan. Anak sudah dapat mendengarkan orang lain , berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut.
h)      Percakapan yang dilakukan anak usia 5-6 tahun telah menyangkut komentarnya terhadap apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang lain serta apa yang dilihatnya.
                                                                                   
Berdasarkan perndapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa karateristik perkembangan bahasa ekspresif anak yaitu kemampaun bahasa anak memiliki tahap-tahap tersendiri yang saling berkesinambungan antara yang satu dengan yang lainnya.
7.      Tahap Perkembangan Bahasa Ekspresif Anak         
Menurut Hildayani (2008:11.16) bahwa terdapat beberapa tahap dalam perkembangan berbicara atau bahasa ekspresif anak yaitu:
Ketika bayi, ia ‘bicara’ dalam bahasa tangis. Pada usia 6 minggu- 3 bulan, bayi mulai mengembangkan sistem komunikasinya menjadi cooing (ocehan tanpa arti yang jelas). Babbling, atau keluarnya suara mirip suku kata, tampak pada usia 6-10 bulan. Memasuki usia 1 tahun, anak telah dapat mengucapkan kata pertamanya. Tidak lama setelah itu, mereka mulai menggabungkan dua kata untuk berbicara. Anak usia 2 tahun telah dapat melakukan komunikasi engan kalimat sederhana. Di usianya yang ketiga anak telah mampu menceritakan tentang kejadian pada saat itu. Anak usia 4-6 tahun telah berbicara dan berbahasa seperti layaknya orang dewasa.

Sedangkan menurut Frankenburg, W.K. (Indriyani, 2008:105) bahwa perkembangan berbicara bayi dan anak adalah sebagai beikut:
a.    Sekitar umur 7 sampai 10 bulan, anak sudah bisa bersuara suku kata, musalnya: ma atau pa atau ta, atau da.
b.    Sekitar umur 11 sampai 13 bulan, anak sudah mulai bisa memanggil: mama! atau papa
c.    Sekitar umur 13  sampai 15 bulan, anak sudah mulai bisa mengucapkan 1 kata, misalnya: mimik, minum, pipis
d.   Sekitar umur 16  sampai 17 bulan, anak sudah mulai bisa mengucapkan 2 kata.
e.    Sekitar umur 17  sampai 18 bulan, anak sudah mulai bisa mengucapkan 3 kata
f.     Sekitar umur 19  sampai 22 bulan, anak sudah mulai bisa mengucapkan 6 kata
g.    Sekitar umur 23  sampai 26 bulan, anak sudah mulai bisa menggabungkan beberapa kata: mimik cucu
h.    Sekitar umur 24  sampai 28 bulan, anak sudah mulai bisa menyebutkan nama benda dan gambar
i.      Sekitar umur 26  sampai 35 bulan, bicaranya 50% sudah dapat dimengerti orang lain.

Sedangkan menurut Steinberg dan Gleason (Suhartono, 2005: 49) bahwa “perkembangan bicara atau bahasa ekspresif anak dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: perkembangan pra sekolah, perkembangan kombinatori, dan perkembangan masa sekolah. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:
a.       Tahap penamaan bicara pra sekolah, disebut juga dengan perkembangan bicara anak sebelum memasuki masa sekolah, terbagi menjadi tiga, yaitu
2)        Tahap penanaman, anak baru mulai mampu mengujarkan urutan bunyi kata tertentu dan ia belum mampu memaknainya. Urutan bunyi yang diucapkannya biasanya terbatas dalam satu kata
3)        Tahap telegrafis, anak sudah mulai dapat menyampaikan peran yang diinginkannya dalam bentuk urutan bunyi yang berwujud dua atau tiga kata untuk mengganti kalimat yang berisi maksud tertentu dan ada hubungannya dengan makna.
4)        Tahap transformasial, anak mulai berani mentransformasikan idenya kepada orang lain dalam bentuk kalimat yang beragam
b.      Pekembangan bicara kombinatori, pada tahap ini anak sudah mulai mampu berbicara secara teratur dan terstruktur. Bicara anak dapat dipahami oleh orang lain dan anak sanggup merespon dengan baik positif maupun negatif atas pembicaraan lawan bicaranya.
c.       Perkembangan bicara masa sekolah, merupakan perkembangan bicara anak sejak memasuki sekolah dasar. Perkembangan bicara ini sudah dpat dibedakan menjadi tiga bidang, yakni struktur bahasa, pemakaian bahasa dan kesadaran metalinguistik.
Dengan melihat beberapa tahap perkembangan tersebut, maka anak harus selalu mendapatkan stimulus sesuai dengan tahap perkembangannya, agar kemampuan berbicara anak dapat memenuhi target dalam usia perkembangannya
8.      Faktor-faktor yang mempengaruhi bahasa ekspresif
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan bahasa ekspresif pada anak. Menurut Sujanto (1992: 31) mengemukakan bahwa  “ada 2 faktor yang berperan dalam pengembangan bahasa ekspresif pada anak yaitu faktor internal dan faktor eksternal”.
 Untuk lebih jelasnya tentang beberapa faktor tersebut maka akan diuraikan sebagai berikut:
a.    Faktor Internal, adalah faktor yang berasal dan dalam diri anak,
1)      Faktor intelegensi. Anak yang intelegensinya tinggi akan memperlihatkan superioritas linguistik, baik dari segi kwalitas maupun dari segi kwalitas.
2)      Faktor jenis kelamin. Anak perempuan melebihi anak laki-laki dalam aspek bahasa. Namun, perbedaan jenis kelamin ini akan berkurang secara tajam selaras dengan bergulirnya fase perkembangan dan bertambahnya usia, sehingga akhirnya perbedaan ini hilang.
3)      Faktor perkembangan motorik. Kemungkinan tertundanya perkembangan  bahasa atau keterlambatannya merupakan hal yang lumrah pada saat anak mengalami perkembangan motorik dengan cepat.
4)      Faktor kondisi fisik. Kondisi fisik berhubungan dengan perkembangan anak serta gangguan penyakit yang berpengaruh pada kelancaran kerja indra. Misal anak cacat, atau anak yang kondisi fisiknya lemah.
5)      Faktor Kesehatan fisik. Kesehatan fisik sangat berhubungan dengan perhatian kita terhadap jenis makanan yang dikonsumsi, kesehatan indra, serta kesehatan rongga hidung yang berpengaruh besar pada daya ingat anak.
b.      Faktor Eksternal adalah faktor yang mempengaruhi di luar diri anak, antara lain:
1)      Faktor Keluarga. Anak memperoleh tempat yang membuatnya dapat memahami bunyi bahasa dengan tepat, dapat menyimak dengan baik. Keluarga yang memotivasi anak menyediakan lingkungan berbahasa yang sesuai, mata anaknya akan lebih maju.
2)      Faktor Lingkungan. Para psikolog menegaskan bahwa lingkungan memiliki pengaruh. Penting terhadap perkembangan bahasa anak. Anak-anak itu bervariasi selaras pembawaannya, demikian pula lingkungan yang ada disekitar anak, dan di atas landasan lingkungan itulah kebudayaan mereka dibangun. Setiap anak memiliki sifat dan pengalaman yang khas yang tidak dimiliki oleh anak lain, karena itu terciptalah perbedaan individual diantara anak. Anak dapat menstransfer bahasa dari kelompoknya, begitu pula sebaliknya. Kadang-kadang anak menguasai puluhan kata dan memahami maknanya dengan baik, tetapi dia tidak mampu menggunakan jumlah kata yang membingungkan itu, dia hanya menggunakan beberapa buah saja saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang ada disekitarnya. c). Faktor perbedaan status sosial. Anak yang secara sosial budaya berasal dari kalangan atas dan menengah lebih cepat perkembangan bahasanya dari pada anak yang berasal dari kalangan bawah.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang turut mempengaruhi pengembangan bahasa ekspresif pada anak adalah faktor internal diantaranya adalah inteligensi, jenis kelamin, perkembangan motorik, kondisi dan kesehatan fisik. Dan faktor eksteren diantaranya adalah keluarga, lingkungan dan status sosial.
9.      Indikator kemampuan Bahasa Ekspresif Anak
Menurut Permen nomor 58 tahun 2009, bahwa Indikator kemampuan berbicara pada anak usia 4 sampai <5 tahun adalah sebagai berikut:
a)    Mengulang kalimat sederhana.
b)   Menjawab pertanyaan sederhana.
c)    Mengungkapkan perasaan dengan kata sifat (baik, senang,
d)   nakal, pelit, baik hati, berani, baik, jelek, dsb.).
e)    Menyebutkan kata-kata yang dikenal.
f)    Mengutarakan pendapat kepada orang lain.
g)   Menyatakan alasan terhadap sesuatu yang diinginkan  atau ketidaksetujuan.
h)   Menceritakan kembali cerita/dongeng yang pernah didengar

Sedangkan Pada Permen nomor 58 tahun 2009, indikator kemampuan berbicara pada anak usia 5 sampai <6 tahun adalah sebagai berikut: 
a)      Menjawab pertanyaan yang lebih kompleks.
b)      Menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama.
c)      Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.
d)     Menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap (pokok kalimat-predikat-keterangan).
e)      Memiliki lebih banyak kata-kata untuk mengekpresikan ide pada orang lain.
f)       Melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan.

Berdasarkan indikator tersebut di atas dan subjek dalam penelitian ini pada kelompok B maka peneliti menggunakan indikator kemampuan berbicara atau bahasa ekspresif anak pada anak usia 5 sampai <6 tahun.

B.     Kerangka Pikir
Kegiatan bercerita merupakan salah satu kegiatan yang sangat disukai oleh anak. Dimana pada pelaksanaannya dalam bercerita menggunakan alat peraga sebagai media penjelas dari cerita yang didengarkan anak, sehingga imajinasi anak terhadap suatu cerita tidak terlalu menyimpang dari apa yang dimaksudkan oleh guru. dan dalam bercerita dengan menggunakan alat terdapat 2 bentuk yaitu alat peraga langsung dan alat peraga tidak langsung. Sedangkan sandiwara boneka termasuk dalam bentuk bercerita dengan menggunakan alat peraga tak langsung, yaitu menggunakan benda-benda yang bukan alat sebenarnya. Bercerita dengan alat peraga tak langsung dapat berupa: 1) bercerita dengan benda-benda tiruan (misalnya: binatang tiruan, buah-buahan tiruan, sayuran tiruan), 2) bercerita dengan menggunakan gambar-gambar, berupa gambar dalam buku atau gambar seri yang terdiri dari 2 sampai 6 gambar yang melukiskan jalannya cerita. 3) bercerita dengan menggunakan papan flanel., 4) membacakan cerita, dan yang terakhir yaitu 5) sandiwara boneka.Berdasarkan kegitan tersebut peneliti berupaya meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak melalui sandiwara boneka. Karena bahasa ekspresif merupakan hal yang sangat penting yang harus dimiliki anak, sehingga anak mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya inginkan.

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah penerapan metode bercerita melalui kegiatan sandiwara boneka dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak pada kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara.

III.         METODE PENELITIAN
A.    Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam ini adalah berupa pendektan kualitatif deskriptif. Dan untuk jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian tindakan kelas karena peneliti berupaya meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif pada anak dengan menggunakan metode bercerita melalui kegiatan sandiwara boneka, dan juga peneliti berusaha mengkaji dan merefleksikan secara mendalam antara penerapan metode bercerita melalui sandiwara boneka terhadap kemampuan bahasa ekspresif anak dalam proses belajar mengajar di Taman Kanak-kanak.

B.     Fokus Penelitian
Fokus dalam penelitian ini, yaitu penerapan metode bercerita melalui kegiatan sandiwara boneka dalam meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak pada kelompok B di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara. Guna pengukuran fokus penelitian, berikut ini dikemukakan defenisi operasional yang menjadi fokus penelitian yaitu metode bercerita melalui kegiatan sandiwara boneka dan kemampuan bahasa ekspresif pada anak seperti: menjawab pertanyaan yang lebih kompleks yang berhubungan dengan sandiwara boneka, menyebutkan kelompok cerita yang memiliki bunyi yang sama, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung, menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap (pokok kalimat-predikat-keterangan), memiliki lebih banyak kata-kata untuk mengekpresikan ide pada orang lain, dan melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan.

C.    Setting Penelitian
Lingkungan penelitian yang dipilih oleh peneliti sebagai lokasi penelitian ini terletak di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara. Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara dipimpin oleh seorang kepala sekolah, dan diajar oleh 9 orang guru. Kelompok A sebanyak 1 kelas dengan anak didik 12 orang, dan kelompok B sebanyak 3 kelas yaitu kelompok B1 berjumlah 24 orang, kelompok B2 berjumlah 25 orang, dan kelompok B3 berjumlah 25, jadi jumlah 86 orang anak didik.
Yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara yang berjumlah 86 orang. Sedangkan yang menjadi subyek penelitian adalah kelompok B1 yang berjumlah 24 orang dan guru yang mengajar sebanyak 1 orang

D.    Rancangan Tindakan
Rancangan tindakan pada penelitian ini, direncanakan terdapat 2 siklus, setiap siklus dibagi menjadi 2 pertemuan  setiap pertemuan terdiri 4 bagian yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Adapun kegiatan yang di laksanakan setiap siklus secara terperinci di uraikan sebagai berikut:
1.      Siklus I Pertemuan I
Kegiatan yang dilakukan pada siklus pertama pertemuan I meliputi:
a.    Perencanaan
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut:
1)      Menyusun Rancangan Kegiatan Harian (RKH)
2)      Membuat lembar observasi mengenai peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anakmelalui kegiatan sandiwara boneka
b.   Pelaksanaan tindakan
Kegiatan Guru pada hari pertama
1)      Kegiatan awal
a)    Guru meminta anak berbaris memasuki ruangan kelas
b)   Guru memulai dengan salam dan meminta anak didik untuk berdoa sebelum melaksanakan kegiatan
2)   Kegiatan Inti
a)    Guru mengemukakan tema yang akan diajarkan
b)   Guru menjelaskan tentang apa itu sandiwara boneka kepada anak
c)    Guru menjelaskan teknik pelaksanaan sandiwara boneka kepada anak
d)   Guru membimbing anak dalam pelaksanaan kegiatan sandiwara boneka
e)    Guru mengamati atau mengobservasi anak
3)   Kegiatan istirahat
a)    Guru meminta anak mencuci tangan
b)   Guru meminta anak berdo’a sebelum dan sesudah makan
c)    Guru meminta anak untuk bermain
4)   Kegiatan akhir
a)    Guru meminta anak untuk bernyanyi
b)   Guru meminta anak berdo’a untuk pulang dan mengucapkan salam
c.    Pengamatan / Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti di dalam kelas, yakni pada saat penyelenggaraan proses pembelajaran oleh guru. Pengamatan dan pemantauan dilakukan secara komprehensif terhadap pelaksanaan penelitian tindakan dan perilaku-perilaku anak dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan menggunakan panduan dan instrument penelitian yang telah dibuat sebelumnya, sehingga diperoleh data-data empirik tentang kemampuan bahasa ekspresif pada anak
d.   Refleksi
Refleksi dilakukan pada saat berakhirnya semua kegiatan yang dilakukan. Refleksi pada siklus pertama ini dilakukan dengan cara melakukan diskusi dengan guru lain (observer) mengenai: (1) Analisis mengenai tindakan yang baru dilakukan, (2) Mengulas dan menjelaskan intervensi, dan penyimpulan data yang diperoleh.
2.      Siklus I Kegiatan II
Kegiatan yang dilakukan pada siklus pertama pertemuan II meliputi:
a.    Perencanaan
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut :
1)      Menyusun Rancangan Kegiatan Harian (RKH)
2)      Membuat lembar observasi tentang peningkatan kemampuan bahsa ekspresif anak melalui kegiatan sandiwara boneka.
b.   Pelaksanaan tindakan
Kegiatan Guru pada hari kedua
1)      Kegiatan awal
a)    Guru meminta anak berbaris memasuki ruangan kelas
b)   Guru memulai dengan salam dan meminta anak didik untuk berdoa melaksanakn kegiatan
2)      Kegiatan Inti
a)    Guru mengemukakan tema yang akan diajarkan pada hari itu
b)   Guru menjelaskan lagi tentang apa itu sandiwara boneka kepada anak
c)    Guru menjelaskan teknik sandiwara boneka kepada anak
d)   Guru membimbing anak dalam pelaksanaan kegiatan sandiwara boneka
e)    Guru mengamati atau mengobservasi anak
3)      Kegiatan istirahat
a)    Guru meminta anak mencuci tangan
b)   Guru meminta anak berdo’a sebelum dan sesudah makan
c)    Guru meminta anak untuk bermain
4)      Kegiatan akhir
a)    Guru meminta anak untuk melafalkan doa’ doa pendek
b)   Guru meminta anak berdo’a untuk pulang dan mengucapkan salam
Kegiatan anak pada hari pertama
1)      Kegiatan awal
a)    Anak  melakukan senam
b)   Anak berbaris memasuki ruangan kelas
c)    Anak membalas salam dan berdoa sebelum belajar
Teknik pelaksanaan kegiatan
a)    Anak  mendengar namanya disebutkan guru
b)   Anak mengulang menyebutkan tema yang telah diajarkan
c)    Anak melihat cara sandiwara boneka
d)   Anak bermain sandiwara boneka
2.      Kegiatan Inti
a)    Anak menyebutkan tema yang akan dipelajari
b)   Anak menyebutkan tujuan dari sandiwara boneka
c)    Anak bermain sandiwara boneka
3.      Kegiatan istirahat
a)    Anak mencuci tangan
b)   Anak berdo’a sebelum dan sesudah makan
c)    Anak keluar untuk bermain
4.      Kegiatan akhir
a)    Anak mengucapkan melafalkan surah-surah pendek
b)   Anak berdo’a untuk pulang dan mengucapkan salam
c.    Pengamatan / Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti di dalam kelas, yakni pada saat penyelenggaraan proses kegiatan berlangsung oleh guru. Pengamatan dan pemantauan dilakukan secara komprehensif terhadap pelaksanaan penelitian tindakan dan perilaku-perilaku anak dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan menggunakan panduan dan instrumen penelitian yang telah dibuat sebelumnya, sehingga diperoleh data-data empirik tentang kemampuan bahasa ekspresif anak.
d.   Refleksi
Refleksi dilakukan pada saat berakhirnya semua kegiatan yang dilakukan. Refleksi pada siklus pertama ini dilakukan dengan cara melakukan diskusi dengan guru lain (observer) mengenai: (1) Analisis mengenai tindakan yang baru dilakukan, (2) Mengulas dan menjelaskan intervensi, dan penyimpulan data yang diperoleh.
1.      Siklus II Kegiatan I
Kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua
a.    Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan pada siklus pertama maka tahap perencanaan siklus kedua ini dilakukan kegiatan sebagai berikut:
1)   Mengidentifikasi kembali faktor-faktor penyebab dan gejala perilaku anak yang mengindikasikan kurang meningkatnya kemampuan bahasa ekspresif  pada anak.
2)   Merumuskan kembali alternatif tindakan pembelajaran dengan penggunaan kegiatan sandiwara boneka sebagai upaya meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif pada anak melalui kegiatan sandiwara boneka.
3)   Menyusun rancangan tindakan pembelajaran penggunaan kegiatan sandiwara boneka yang dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif pada anak.
b. Pelaksanaan tindakan
Kegiatan Guru pada hari pertama
1.    Kegiatan awal
a)      Guru meminta anak berbaris memasuki ruangan kelas
b)      Guru memulai dengan salam dan meminta anak didik untuk berdoa melakukan kegiatan

Teknik pelaksanaan kegiatan
a)      Guru mengecek kehadiran anak didik
b)      Guru mengemukakan tema yang akan diajarkan
c)      Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan berupa kegiatan sandiwara boneka
d)     Guru memberikan contoh setiap kegiatan yang akan dilaksanakan
e)      Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain sandiwara boneka
2.    Kegiatan Inti
a)      Guru memperlihatkan tema yang akan diajarkan
b)      Guru memperlihatkan pada anak cara bermain sandiwara boneka
c)      Guru meminta anak untuk mengikuti apa yang dilakukan guru
3.    Kegiatan istirahat
a)      Guru meminta anak mencuci tangan
b)      Guru meminta anak berdo’a sebelum dan sesudah makan
c)      Guru meminta anak untuk bermain
4.    Kegiatan akhir
a)   Guru meminta anak untuk mengucapkan rukun Islam
b)  Guru meminta anak berdo’a untuk pulang dan mengucapkan salam
c.    Pengamatan / Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti di dalam kelas, yakni pada saat penyelenggaraan proses pembelajaran oleh guru. Pengamatan dan pemantauan dilakukan secara komprehensif terhadap pelaksanaan penelitian tindakan dan perilaku-perilaku anak dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan menggunakan panduan dan instrumen penelitian yang telah dibuat sebelumnya, sehingga diperoleh data-data empirik tentang peningkatan kemampuan bahasa ekspresif pada anak.
d.   Refleksi
Refleksi dilakukan pada saat berakhirnya semua kegiatan yang dilakukan. Refleksi pada siklus pertama ini dilakukan dengan cara melakukan diskusi dengan guru lain (observer) mengenai: (1) Analisis mengenai tindakan yang baru dilakukan, (2) Mengulas dan menjelaskan intervensi, dan penyimpulan data yang diperoleh.
2.      Siklus II kegiatan II
Kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua
a.    Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan pada siklus pertama maka tahap perencanaan siklus kedua ini dilakukan kegiatan sebagai berikut:
1)   Mengidentifikasi kembali faktor-faktor penyebab dan gejala perilaku anak yang mengindikasikan kurang meningkatnya kemampuan bahasa ekspresif pada anak.
2)   Merumuskan kembali alternatif tindakan pembelajaran penggunaan kegiaatan sandiwara boneka sebagai upaya meningkatkann kemampuan bahasa ekspresi pada anak
3)   Menyusun rancangan tindakan dan skenario pembelajaran melalui kegiatn sandiwara boneka yang dapat meningkatkann kemampuan bahasa ekspresif pada anak.
b.   Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan Guru pada hari kedua
1)   Kegiatan awal
a)   Guru meminta anak berbaris memasuki ruangan kelas
b)   Guru memulai dengan salam dan meminta anak didik untuk berdoa sebelum belajar
2)   Kegiatan Inti
a)   Guru memotivasi anak untuk tetap semangat dan aktif mengikuti kegiatan
b)   Guru mengemukakan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
c)   Guru memberikan contoh cara bermain sandiwara boneka
3)   Kegiatan istirahat
a)    Guru meminta anak mencuci tangan
b)   Guru meminta anak berdo’a sebelum dan sesudah makan
c)    Guru meminta anak untuk bermain
4)   Kegiatan akhir
a)    Guru meminta anak untuk melafalkan surah-surah pendek
b)   Guru meminta anak berdo’a untuk pulang dan mengucapkan salam

c.    Pengamatan / Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti di dalam kelas, yakni pada saat penyelenggaraan proses pembelajaran oleh guru. Pengamatan dan pemantauan dilakukan secara komprehensif terhadap pelaksanaan tindakan dan perilaku-perilaku anak dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan menggunakan panduan dan instrument penelitian yang telah dibuat sebelumnya, sehingga dipeloleh data-data empirik tentang peningkatan kemampuan bahasa ekspresif  anak. 
d.   Refleksi
Refleksi ini akan dilasanakan di Taman Kanak-kanak Negeri 03 Tolada Kabupaten Luwu Utara yang merupakan salah satu Taman Kanak-kanak yang berada dilokasi yang strategis dan padat penduduknya.

E.     Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Teknik dan prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu : observasi,  dan dokumentasi.
1.      Observasi
Teknik pengamatan atau observasi yang digunakan adalah untuk mengetahui penerapan sandiwara boneka dalam meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak, secara langsung dengan merujuk pada pedoman observasi yang telah dibuat untuk tiap-tiap anak yang berisi tentang indikator tentang kemampuan bahasa ekspresif anak kelompok B1 melalui kegiatan sandiwara boneka.
2.      Dokumentasi
Teknik yang dilakukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian seperti laporan kegiatan, foto-foto, rekaman kegiatan dan data yang relevan lainnya.

F.     Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan
Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui tiga cara, yakni: observasi partisipasif yang dilakukan oleh guru dan observasi langsung pada anak. Pengelolaan data-data dilakukan dengan: (a) pengecekan kelengkapan data, (b) pentabulasian data, dan (c) analisis data.  Analisis data yang dipergunakan adalah teknik deskriptif. Sedangkan jenis penilaian atau indikator keberhasilan yang dipergunakan ada tiga macam, yaitu:
Baik (B)        :    Apabila anak mampu melaksanakan kegiatan dengan cepat dan tepat dengan baik dalam berbahasa ekspresif.
Cukup (C)    :    Apabila anak mampu melaksanakan kegiatan dalam berbahasa ekspresif, akan tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama dengan hasil yang tidak maksimal.
          Kurang (K)      : Apabila anak tidak mampu melaksanakan kegiatan dalam berbahasa ekspresif dengan baik 

Tidak ada komentar: